Penetrasi Digital Pada UMKM di Jatim Masih Belum Maksimal

Pandemi covid 19 yang berlangsung hampir dua tahun telah mendorong banyak sektor usaha melakukan penjualan secara digital. Namun bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), digitalisasi masih terasa rendah, karena penetrasinya yang kurang.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, Senin (3/12/2021). “Pandemi mendorong UMKM untuk melakukan digitalisasi. Namun pada kenyataannya upaya ini tidak maksimal karena penetrasi digitalisasi UMKM terkesan berjalan lambat,” kata Adik.

Hal ini juga terlihat pada saat pandemi, dimana perkembangan platform e-commerce di Indonesia meningkat dengan sangat pesat yang disebabkan oleh shifting consumer behavior.  Data Bank Indonesia (BI), menunjukkan bahwa tahun 2020 jumlah transaksi e-commerce di Indonesia bernilai Rp 266 triliun.

“Tetapi kenaikan kinerja penjualan secara online tersebut tidak berbanding lurus dengan besarnya kontribusi UMKM terhadap penjualan tersebut,” ujar Adik.

Hal itu dikuatkan oleh pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Agus Suparman menyatakan bahwa kontribusi produk lokal termasuk UMKM / IKM Indonesia hanya sebesar 7 persen saja. Selebihnya adalah barang impor.

Pernyataan tersebut menurut Adik tidak berbeda jauh dengan apa yang diungkapkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, bahwa pada tahun 2021 proyeksi transaksi e-commerce Indonesia bernilai Rp 395 triliun.

“Tetapi Indef menyatakan bahwa kontribusi produk lokal termasuk UMKM / IKM kita terhadap transaksi tersebut hanya sebesar 10 persen saja selebihnya adalah barang impor. Ini seperti apa yang diungkapkan oleh Pakde Karwo bahwa persoalan digitalisasi UMKM masih menjadi Pekerjaan Rumah bagi untuk segera mencarikan solusinya bagaimana kemudian kontribusi UMKM terhadap penjualan secara daring ini bisa dinaikkan secara signifikan,” beber Adik.

Dilansir dari tribunnews.com