Content: / /

Realisasi Investasi di Jawa Timur Turun di Tahun 2016

Keuangan

17 Februari 2017
Realisasi Investasi di Jawa Timur Turun di Tahun 2016

Kinerja investasi di Jawa Timur selama tahun 2016 mencatatkan angka yang kurang bagus. Dari catatan Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur, realisasi investasi di Jawa Timur sebesar 155 triliun rupiah, lebih rendah dari realisasi tahun 2015 yang tercatat 163 triliun rupiah.

Rincian dari realisasi itu masing-masing untuk penanaman modal asing (PMA) sebesar 26 triliun rupiah, dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar 46 triliun rupiah.

PMDN nonfasilitas sebesar 82 triliun rupah. Data Badan Penanaman Modal Jatim mencatat, total proyek untuk PMA dan PMDN mencapai 1.081 proyek dan menyerap sebanyak 97.268 tenaga kerja. Sementara PMDN nonfasilitas sebanyak 130.520 unit usaha dengan serapan sebanyak 651.810 tenaga kerja.

Penurunan juga terjadi pada izin prinsip. Selama tahun 2016, izin prinsip tercatat 61 triliun rupiah, turun dibanding tahun 2015 yang sebesar 172 triliun rupiah. Dari jumlah itu, PMA sebanyak 255 proyek senilai 24 triliun rupiah dengan serapan 31.369 tenaga kerja. PMDN sebanyak 819 proyek senilai 37 triliun rupiah dengan serapan 37.314 tenaga kerja.

Kepala BPM Jatim, Lili Soleh Wartadipraja mengatakan, dari total investasi, sektor yang paling diminati di Jatim adalah perdagangan dan reparasi. Total proyek untuk sektor ini selama 2016 mencapai 194 dengan investasi sekitar 1 triliun rupiah. Selanjutnya, industri makanan yang jumlah proyek pada 2016 sebanyak 83 proyek dengan nilai 2,8 triliun rupiah.

Ketiga adalah industri kimia dan farmasi yang jumlah proyek pada 2016 sebanyak 42 proyek dengan nilai 9,6 triliun rupiah. “Serapan tenaga kerja terbanyak di industri makanan yang mencapai 7.000 orang,” katanya.

Dia menambahkan, lokasi investasi yang paling diminati terletak di Gresik dengan jumlah 201 proyek. Nilainya mencapai 13 triliun rupiah dan menyerap 7.000 tenaga kerja. Lalu, Sidoarjo sebanyak 85 proyek. Nilainya sebesar 1,6 triliun rupiah dan menyerap 4.800 tenaga kerja. Ketiga, Surabaya dengan jumlah 28 proyek. Nilainya 1,6 triliun rupiah dan menyerap 7.000 tenaga kerja.

“Kalau Nganjuk masih kurang diminati. Selama tahun 2016, hanya ada satu proyek senilai 200 miliar rupiah. Jumlah tenaga kerja yang terserap sekitar 2.500 orang,” jelasnya.

Tim Ahli Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Dr Jamhadi, MBA mengatakan, saat ini investasi ke Jatim lebih diarahkan ke investasi barang substitusi untuk memenuhi bahan baku industri agar tidak impor.

Jika impor bisa dikurangi, penguatan ekonomi lokal bisa terwujud. Dari sektor investasi, kata Jamhadi, Pemprov Jatim cukup berhasil menggaet investor. Setidaknya, ada 36 negara foreign direct investment (FDI) yang sudah bekerja di seluruh Jatim. Sekitar 10 besar dari negara-negara itu, di antaranya Singapura, Jepang, dan Malaysia.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki posisi strategis,” kata Ketua KADIN Surabaya ini.

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) Rudi Purwono menilai, pembangunan kawasan-kawasan industri cukup penting untuk menggerakkan investasi, khususnya yang bergerak di sektor padat karya. Konsentrasi kawasan industriselama  ini hanya ke daerah di sekitar Surabaya, Pasuruan, Jombang, dan Mojokerto. Seharusnya, kawasan ini diperluas hingga ke Pulau Madura.

“Jika di Madura ada kawasan industri, diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal,” ujarnya. (okz)

 

Tinggalkan Komentar

www.kadinsurabaya.or.id adalah website resmi Kadin Surabaya

ketua Kadin Surabaya

Facebook

Office

Address:
Kompleks Ruko Manyar Megah Indah RMI Blok C-25 Jl. Ngagel Jaya Selatan
Surabaya 60284

Phone:
031-5043733, 5043569

Fax:
031-5026120

Email:
kadinsurabaya@yahoo.com