Content: / /

Ketua KADIN Surabaya Ajak Mahasiswa Peduli Inflasi

Pendidikan

25 Februari 2018
Ketua KADIN Surabaya Ajak Mahasiswa Peduli Inflasi

Jamhadi saat memaparkan materi tentang inflasi kepada mahasiswa di Malang

Bank Indonesia (BI) kantor perwakilan (KPw) Jawa Timur bersama Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) Kota Surabaya mengedukasi para perwakilan mahasiswa se-Jawa Timur tentang inflasi.

Acara bertajuk ‘Mahasiswa Peduli Inflasi’ ini dihadiri Difi Ahmad Johansyah (Kepala BI KPw Jatim), Taufik Saleh (Kepala Advisory Ekonomi dan Keuangan BI KPw Jatim), Deddy (BI Jatim), Dr Ir Jamhadi, MBA (Ketua KADIN Surabaya), serta sejumlah pejabat penting lainnya.

Adapun perwakilan mahasiswa yang hadir berasal dari Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Brawijaya (UB), dan beberapa mahasiswa lagi.

Suasana acara yang dikonsep secara lesehan membuat mahasiswa bertambah antusias mengikuti acara ini.

Saat Jamhadi memaparkan materi tentang inflasi yang berjudul “Inflasi Dalam Pandangan Usaha”, banyak dari mahasiswa yang mengajukan pertanyaan tentang inflasi dan dampaknya terhadap perekonomian Republik Indonesia (RI).

Dengan cekata, Jamhadi menjelaskan bahwa penyebab inflasi ialah permintaan yang lebih besar daripada supply, kenaikan bahan baku maupun biaya produksi, tekanan permintaan dan dorongan ongkos, peredaran uang kartal yang tak terkendali, kekacauan politik dan ekonomi, dan tuntutan kenaikan upah

Ada 6 akibat yang ditimbulkan inflasi terhadap perekonomian RI. Yaitu bagi pemilik pendapatan tetap dirugikan, dan pendapatan tidak tetap bisa diuntungkan. Kedua penabung dirugikan karena nilai uang semakin menurun, dan bagi debitur, inflasi menguntungkan karena saat pembayaran utang, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Bagi kreditur, mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan saat meminjam.

Bagi pengusaha besar, inflasi dapat menguntungkan jika pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bagi pengusaha kecil, naiknya biaya prpduksi dapat merugikan sehongga enggan meneruskan produksinya.

Dampak bagi perekonomian nasional ialah investasi berkurang, mendorng tingkat bunga, mendorong penanam modal yang bersifat spekulatif, menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi pada masa yang akan datang, merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Terdapat 2 sektor yang menimbulkan inflasi dan deflasi, yaitu sektor impor dan ekspor. Jika ekspor suatu negara lebih besar dari pada impor maka akan terjadi tambahan inflasi. Sekor saving dan investasi, sektor anggaran belanja. Bila neraca anggaran belanja selalu mengalami defisit, maka untuk menutupi defisit tersebut biasanya diadakan percetakan uang baru.

Lalu bagaimana cara mengatasi inflasi ? Jamhadi menjelaskan bahwa cara mengatasi inflasi bisa dilakukan dengan beberapa cara. Diantaranya melalui kebijakan moneter, yaitu kebijakan yang dilakukan oleh Bank Sentral dengan cara politik diskonto (menaikkan suku Bungan tabungan dan kredit), politik pasar terbuka (menurunkan tingkat bunga obligasi sertifikat Bank Indonesia/SBI), dan politik cadangan kas (menaikkan cash ratio bank).

Lalu melalui kebijakan fiscal, dilakukan oleh Pemerintah dengan cara mengurangi pengeluaran Pemerintah, menaikkan tarif pajak, dan pengurangan utang luar negeri.

Dan melalui kebijakan non moneter dan non fiscal ; menaikkan hasil produksi, kebijakan menaikkan upah, pengawasan harga dan distribusi barang dengan memasang papan nama digital di semua pusat penjualan barang secara inline dan online dengan pengambil kebijakan.

Lebih lanjut, Jamhadi memaparkan bahwa di Jawa Timur, penyumbang inflasi sepanjang tahun 2017 terjadi karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi 6% di awal tahun. Termasuk pula kenaikan biaya perpanjangan STNK dengan perubahan harga mencapai 106%.

Sedangkan untuk komoditi atau barang lain yang cukup banyak menyumbang inflasi Jatim sepanjang tahun 2017 yakni kenaikan harga beras 6,7% dam emas perhiasan 12%.

Inflasi tinggi sepanjang tahun lalu terjadi pada bulan tertentu, yakni Januari dan Juli saat momen lebaran serta akhir tahun yang sudah terjadi sejak November dan Desember 2017 yakni inflasi 0,71%. Kelompok penyumbang terbesar di akhir tahun ini kebanyakan adalah komoditi bahan makanan.

Dan menurut pengamatan lokasi dari Jember sampai Madiun semua menunjukkan inflasi. Sepanjang tahun 2017, penyumbang inflasi terbesar terjadi di Madiun dengan inflasi 4,78%, disusul Surabaya 4,37%, dan Malang 3,75%. (*)

 

 

 

Tinggalkan Komentar

www.kadinsurabaya.or.id adalah website resmi Kadin Surabaya

ketua Kadin Surabaya

Facebook

Office

Address:
Kompleks Ruko Manyar Megah Indah RMI Blok C-25 Jl. Ngagel Jaya Selatan
Surabaya 60284

Phone:
031-5043733, 5043569

Fax:
031-5026120

Email:
kadinsurabaya@yahoo.com