Content: / /

DPRD Surabaya Susun Raperda Industri Kreatif Hasil Rekomendasi KADIN

Info Kadin

21 Oktober 2016
DPRD Surabaya Susun Raperda Industri Kreatif Hasil Rekomendasi KADIN

Dari kiri : Perwakilan BNI, Dr Ir Jamhadi, MBA, Drs. Eko Agus Supiadi S, MM (Kepala BKPPM Surabaya), Ahmad Zakaria (Anggota DPRD Surabaya), Wahyu Kusumo Hadi (KADIN Surabaya), Samsul Hadi (Ketua SCCF), Muh Zainuddin (Koordinator Simpul SCCF)

Industri kreatif di tanah air tumbuh dengan pesat. Bahkan, pemerintah membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), yang secara khusus menangani industri kreatif di Indonesia.

Ada 16 subsektor industri kreatif yang dikembangkan Bekraf, yaitu aplikasi dan pengembangan game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi, dan radio.

Untuk mendukung tumbuhnya industri kreatif di Indonesia khususnya di Kota Surabaya, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Surabaya memiliki sejumlah ide. Namun, ide saja tidak cukup tanpa didukung oleh berbagai pihak, dalam hal ini Pemerintah Kota dan DPRD Kota Surabaya.

Oleh karena itulah, dalam Rapat Kerja (raker) yang digelar di Shangri-La Hotel Surabaya pada 19 Oktober 2016, KADIN meminta dukungan ke DPRD Kota Surabaya, Pemkot Surabaya, perbankan, dan swasta. Dan stakeholder itu mendukung penuh rekomendasi yang digagas KADIN Surabaya.

Kepada Pemerintah Kota (Pemkot) dan DPRD Surabaya, KADIN merekomendasikan agar Pemkot Surabaya lebih berpihak kepada peningkatan pertumbuan industri kreatif dengan memberikan infastruktur tambahan.

Menurut Ketua KADIN Surabaya, Dr Ir Jamhadi, MBA, saat ini kontribusi industri kreatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kota Surabaya hanya dikisaran 5,71% dari total PDRB Surabaya yang mencapai 300 triliun rupiah di tahun 2015. Padahal potensinya masih sangat besar.

Jamhadi memberi contoh seperti industri perfilman. Saat ini di Indonesia ada sekitar 1.170 studio film. Padahal Presiden Indonesia, Joko Widodo menargetkan jumlah studio film di seluruh Indonesia hingga tahun 2017 mencapai 5.000 studio film. Bahkan Jokowi tidak memasukkan industri ini dalam daftar “negative investment”, sehingga sahamnya bisa dimiliki asing 100% asal 60% konten dari film yang dirilis adalah konten lokal.

“Dan Surabaya banyak yang bisa digali, bisa dieksplorasi,” terang Jamhadi.
Selain perfilman, industri kreatif yang bisa dikembangkan adalah industri fashion, industri IT, arsitektur dan kesenian lainnya. Dan industri kreatif yang sudah berkembang di Surabaya masih diseputar sektor gastronomi atau industri makanan dan minuman.

“Kami menargetkan sumbangan industri ini akan naik menjadi 30% dari saat ini yang hanya 5,71% terhadap PDRB Surabaya. Ini harus dikejar karena sektor industri di Surabaya sedikit demi sedikit dikurangi dan telah dialihkan ke berbagai kota di sekitar Surabaya. Kreatifitas harus ada di segala sektor usaha dan harus ada substitusi usaha lain,” tegasnya.

Jamhadi mengatakan, KADIN Surabaya sudah mengajukan program agar dimasukkan ke dalam Rancangan Peratuan Daerah (Raperda). Adapun program-program KADIN Surabaya yang mendapat respon baik dari DPRD Surabaya diantaranya Raperda CSR (Corporate Social Responsibilty), dan program bantuan mesin produksi ke UMKM di Surabaya atau collective investment.

Sementara DPRD Kota Surabaya siap membangun ekonomi Kota Surabaya dengan mendukung sektor UMKM dan industri kreatif. Hal ini ditegaskan oleh Ahmad Zakaria dari Fraksi PKS. 

Muhammad Mahmud, pimpinan Komisi DPRD Kota Surabaya juga menegaskan hal yang sama. Dia mengatakan, DPRD akan menyusun Raperda industri kreatif, berdasarkan dari rekomendasi dari KADIN Surabaya.

Tinggalkan Komentar

www.kadinsurabaya.or.id adalah website resmi Kadin Surabaya

ketua Kadin Surabaya

Facebook

Office

Address:
Kompleks Ruko Manyar Megah Indah RMI Blok C-25 Jl. Ngagel Jaya Selatan
Surabaya 60284

Phone:
031-5043733, 5043569

Fax:
031-5026120

Email:
kadinsurabaya@yahoo.com