Content: / /

2 Kriteria agar Surabaya Masuk Jejaring UCCN

Kuliner

13 September 2017
2 Kriteria agar Surabaya Masuk Jejaring UCCN

Pedagang semanggi Surabaya. Kuliner ini kurang mendapat perhatian Pemkot Surabaya

Surabaya digadang-gadang punya peluang masuk ke dalam jejaring kota kreatif UNESCO atau UNESCO creative city network (UCCN) untuk 2 bidang, yaitu gastronomi dan literasi. Kedua bidang itu merupakan bagian dari 7 pilihan yang ditawarkan UNESCO kepada kota-kota kreatif di dunia.

Pihak yang getol sekali ingin membawa Surabaya masuk jejaring kota kreatif UNESCO ialah Surabaya Creative City Forum (SCCF). Untuk diketahui, SCCF merupakan embrio dari beberapa organisasi, yaitu KADIN Surabaya, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kota Surabaya, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Fokus UMKM, dan lain-lain.

Dalam perjalanannya, kemudian SCCF membangun sinergi pentahelix, yang melibatkan Pemerintah, akademisi, pengusaha, komunitas, dan media. Kelima unsur itu saling membahu dan melengkapi agar bisa menemukan "ruh" Surabaya untuk dijadikan salah satu pilihan kota kreatif yang ditentukan UNESCO, yaitu kerajinan dan kesenian rakyat, desain, film, gastronomi, literatur, media arts, dan musik.

Ujungnya, pada 11 Januari 2017 atau bertepatan 1 tahun berdirinya SCCF, digelar focus grup discussion (FGD) Pentahelix (Pemerintah, akademisi, komunitas, pebisnis, media) di Untag 45 Surabaya, dengan mengundang beberapa pegiat bisnis kreatif termasuk pula anggota DPRD Surabaya. Dari situlah, lalu pilihan mengerucut pada 2 simpul, yaitu literasi dan gastronomi.

Kenapa gastronomi dan literasi ? Ketua KADIN Surabaya sekaligus Dewan Pendiri SCCF, Dr Ir Jamhadi, MBA, memberikan alasannya. Menurut pria yang saat ini sebagai Tim Ahli KADIN Jawa Timur ini, dari beberapa criteria kota kreatif yang ditentukan UNESCO, potensi yang ada di Surabaya mengarah ke dua sektor itu. Contoh saja produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Surabaya pada tahun 2016 lalu, sekitar 46% disumbang dari sektor jasa, perdagangan, hotel dan restoran.

“Surabaya telah menunjukkan adanya dukungan gastronomi atau keahlian masak memasak dan kuliner yang memadai dan juga punya literasi yang bagus. Surabaya punya sentra-sentra kuliner maupun kampung yang berkaitan dengan gastronomi, antara lain kampung lontong dan kampung kue,” jelas Jamhadi.

Keberadaan sentra produksi lontong dan kue itu diiringi oleh pertumbuhan konsumsi sekitar 60% atau 4% dari 7% pertumbuhan ekonomi Surabaya. Di dalamnya termasuk konsumsi makanan dan minuman (mamin). Jadi, jelas kegiatan masyarakat Surabaya banyak berkaitan dengan sektor gastronomi,” jelas Jamhadi.

Namun, untuk menentukan apakah Surabaya layak jadi kota literasi atau gastronomi, perlu kajian khusus. Misalnya survey dan kuesioner dengan melibatkan quatrohelix, yang terdiri dari akademisi, pebisnis, pemerintah, dan komunitas.

“Kami akan mengirim detail tentang 2 sektor itu agar Surabaya segera mendaftarkan diri ke UCCN. Dengan masuknya Surabaya ke UCCN, banyak manfaat ekonomi yang didapatkan. Dan tentunya menjadi kebanggaan karena sebagai ikon kota kreatif kelas dunia. Ada bukti bahwa kota kreatif dan innovatif itu memiliki penduduk yang sejahtera dengan income per capita sangat layak,” kata Jamhadi.

Bagi Surabaya, lanjut Jamhadi, sangatlah mudah untuk bisa masuk jejaring kota kreatif UNESCO. Karena Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya memiliki 330 universitas, yang rata-rata memiliki jurusan IT dan media. Itu bisa mendukung Surabaya masuk jejaring kota kreatif UNESCO.

Dari penjelasannya, Jamhadi bilang bahwa sejak dirilis tahun 2004 silam, di dunia ini baru ada 116 kota dari 54 negara yang sudah masuk jejaring kota kreatif versi UNESCO. Di Indonesia baru 2, yaitu Pekalogan dari kerajinan dan kesenian rakyat, dan Bandung dari desain. “Kami ingin Surabaya segera mengajukan, karena kita tidak kalah dengan Bandung dan kota-kota lainnya,” ujar Jamhadi.

Untuk bisa mengajukan ke UNESCO dari gastronomi, kriterianya antara lain keahlian memasak masyarakat berkembang dengan baik dan merupakan karakteristik dari pusat kota dan wilayah, masyarakat hidup dengan keahlian memasak . Banyak juru masak dan restorak tradisional.

Lalu unsur endogem banyak dipergunakan dalam masakan tradisional. Pengetahuan lokal praktek kuliner tradisional dan cara memasak yang akan membuat kelangsungan dari industri gastronomi itu sendiri. Pasar makanan tradisional dan industri makanan tradisional.

Tradisi penyelanggaraan festival gastronomi, penghargaan, kontes dan pengakuan dari target kalangan luas. Menghargai lingkungan dan memperkenalkan produk lokal yang berkelanjutan. Terakhir, memelihara apresiasi publik memperkenalkan nutrisi pada lembaga pendidikan termasuk program konservasi keanekaragaman hayati di dalam kurikulum masak memasak di sekolah.

Sedangkan kriteria kota literature ialah kualitas, kuantitas dan keanekaragaman kantor penerbitan dan editorial. Kualitas dan kuantitas program pendidikan yang dilakukan untuk kesusateraan nasional atau asing baik di sekolah dasar, menengah, maupun perguruan tinggi. Di lingkungam perkotaan, sastra, drama, dan puisi memainkan peran integral.

Pengalaman penyelenggaraan acara kesusasteraan dan festival yang bertujuan untuk memperkenalkan sastra nasional dan asing. Perpustakaan, toko buku, dan pusat kebudayaan publik dan swasta didedikasikan untuk memperkenalkan kesusateraan nasional maupun asing.

Para penerbit secara aktif menterjemahkan karya sastra dari bahasa nasional yang beragam dan bahasa asing. Keterlibatan secara aktif dari media, termasuk media baru dalam memperkenalkan dan memperkuat pasar untuk produk kesusasteraan.

Semua kota yang sudah memenuhi indikator yang ditentukan UNESCO akan bergabung menjadi bagian dari anggota UCCN. Creative Cities Network ini bertujuan untuk memperkuat kreasi, produksi, distribusi dan menikmati barang-barang dan layanan budaya pada level lokal.

Selain itu, mempromosikan kreativitas dan ekpresi kreatif khususnya di tengah kelompok rentan, termasuk perempuan dan generasi muda; meningkatkan akses dan partisipasi dalam dan untuk kehidupan budaya sama baiknya dengan menikmati barang-barang budaya itu sendiri; serta mengintegrasikan budaya dan industri kreatif ke dalam rencana pembanguan lokal.

Apa tuntungnya Surabaya Masuk UCCN ?

Banyak manfaat yang bisa didapat oleh sebuah kota bila label dari badan PBB tersebut diperoleh. Salah satunya, kota itu bisa menarik banyak orang kreatif untuk datang. Begitu memenuhi syarat kota itu diakui sebagai kota kreatif UNESCO, bukan langsung berhenti. Justru, begitu diakui sebagai kota kreatif, kota itu harus melakukan banyak hal untuk mengembangkannya.

Jika Surabaya dinyatakan sebagai kota kreatif UNESCO, maka gelar kota kreatif itu bisa menjadi alat promosi yang baik. Itu terbukti saat Pekalongan dengan batiknya diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, maka batik itu pun langsung dipromosikan ke dunia internasional. Selain itu, kota itu akan menjadi daya tarik bagi wisatawan, yang memiliki multiplier effect yang cukup besar.

Tinggalkan Komentar

www.kadinsurabaya.or.id adalah website resmi Kadin Surabaya

ketua Kadin Surabaya

Facebook

Office

Address:
Kompleks Ruko Manyar Megah Indah RMI Blok C-25 Jl. Ngagel Jaya Selatan
Surabaya 60284

Phone:
031-5043733, 5043569

Fax:
031-5026120

Email:
kadinsurabaya@yahoo.com